ELVIPS.COM - Sejak awal 2014, pemerintah menerapkan larangan ekspor tambang mentah di Indonesia. Tujuannya agar pembangunan smelter (pemurnian tambang) berkembang di Indonesia. Berapa perusahaan yang berencana membangun smelter?
Syamsu Daliend, Kepala Subdirektorat Pengawasan Produksi, Operasi, dan Pemasaran Mineral Kementerian ESDM mengatakan, ada 178 perusahaan pemegang izin usaha pertambangan (IUP) yang tengah dalam proses pembangunan smelter.
"Perkembangan smelter terbaru, Hingga kini, terdapat 178 izin usaha pertambangan (IUP) yang tengah dalam proses membangun smelter," jelas Syamsu dalam diskusi soal smelter, di Hotel Atlet Century, Jakarta, Kamis (6/8/2015).
Dari jumlah tersebut, Syamsu menuturkan, mayoritas proyek pengerjaan smelter baru mencapai uji kelayakan sebanyak 102 izin. Lalu 15 izin sedang menjalani proses analisis AMDAL. Ada 12 izin sedang melakukan groundbreaking dan awal konstruksi.
"Lalu 20 izin sedan tahap pertengahan konstruksi pabrik, 4 konstruksi akhir, dan 25 izin sudah menyelesaikan comissioning (uji coba) atau sudah mulai berproduksi," kata Syamsu.
Namun dia tidak merinci nama perusahaan dan letak lokasi pembangunan smelter yang akan dilakukan.
RI Larang Ekspor Tambang Mentah, Jangan Sampai Investor Smelter Ditipu
Sejak Undang-Undang No.4 Tahun 2009 soal Mineral dan Batu Bara (Minerba) disahkan, Indonesia mulai melarang ekspor tambang mentah mulai awal 2014 lalu. Tujuannya agar ada pembangunan industri hilir seperti smelter di dalam negeri.
Namun, jangan sampai aturan ini diubah kembali dan tetap harus dilaksanakan. Tujuannya, agar ada kepastian hukum dan usaha kepada para investor yang mau membangun smelter di dalam negeri.
Pembangunan smelter tidak mudah dan biayanya tinggi. Tak hanya untuk mesin dan tanah pabrik, namun investor juga harus memiliki pasokan energi listrik sendiri.
Belajar dari pengalaman, yang perlu kita kawal sekarang jangan sampai ada relaksasi pada (ekspor) ore (bijih/tambang mentah). Maka kalau ada relaksasi lagi kepastian berusaha tadi yang sudah dibangun lama hancur, mereka pikir ditipu lagi nih kita. Jadinya orang yang mau bangun smelter saat ini bakal menarik diri. Karena sudah niat bangun tiba-tiba ada relaksasi lagi," tutur Syamsu Daliend, Kepala Subdirektorat Pengawasan Produksi, Operasi, dan Pemasaran Mineral Kementerian ESDM dalam diskusi soal smelter, di Hotel Atlet Century, Jakarta, Kamis (6/8/2015).
Saat ini Indonesia baru memiliki satu smelter dengan kapasitas 1 juta ton per tahun, dan smelter ini rencananya akan diperbesar sehingga kapasitasnya menjadi sekitar 3 juta ton per tahun.
"Kemudian kesulitan lain dalam pembangunan smelter itu pembebasan lahan, itu harus dilakukan pemerintah. Jangan investor asing yang suruh bebaskan lahan. Orang datang jauh-jauh mau investasi kok suruh bebaskan lahan, harusnya pemerintah lah. Di China kalau mau bangun bangun saja, di kita singkirkan rumah satu saja nanti ada melanggar HAM katanya. Nah ini harus ada upaya-upaya untuk selesaikan itu," papar Syamsu.
Selain soal smelter, Syamsu mengatakan, harus ada penegakan aturan soal devisa ekspor hasil tambang agar jangan dibawa ke luar negeri. Pihak ESDM sudah menyampaikan kepada BI agar devisa hasil ekspor, khususnya tambang perlu diatur agar bisa disimpan di dalam negeri.
'Harta Karun' Energi RI Jadi Incaran Turki hingga AS
Indonesia menyimpan potensi energi panas bumi atau geothermalyang besar. Harta karun energi Indonesia ini menjadi incaran berbagai negara. Baru-baru ini, Turki menyatakan minatnya mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP).
Tidak berhenti disitu, negara sekelas Amerika Serikat (AS) hingga Inggris juga 'ngiler' mengembangkangeothermal di Indonesia.
"Baru-baru ini saya ketemu sama delegasi Inggris dan AS. Mereka sudah nengok kita. Mereka tertarik semua energi baru terbarukan di Indonesia. Delegasi AS minta ngajak ngobrol lebih lanjut soal geothermal besok," kata Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan Kementerian ESDM Rida Mulyana usai acara penandatanganan amandemen PKP2B di Aula Gedung C Direktorat Jenderal Minerba Kementerian ESDM, Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (5/8/2015).
Minat AS masuk ke geothermal RI muncul setelah Kementerian ESDM memaparkan data-data terkait potensi panas bumi dan rencana masuknya PLTP ke dalam proyek pembangkit 35.000 Mega Watt (MW).
"Saya sudah kasih unjuk ke mereka (AS), mereka minta ngobrol lagi. Saya bilang ke mereka, masa kalah sama Turki," ujarnya.
Rida mengungkapkan harga geothermal Indonesia paling bagus dari seluruh produsen di dunia.
"Rupanya saya baru tahu, harga geothermal kita paling bagus sedunia, negara lain nggak ada yang bisa harga dua digit," jelasnya.
Minat AS ke proyek geothermal akan ditindaklanjuti melalui pembicaraan antar pemerintah atau Government to Government (G to G). Beberapa aspek yang akan dibahas terkait transfer teknologi, pengembangan SDM, kelembagaan, hingga peningkatan kapasitas.
Rida menuturkan Amerika merupakan negara pengguna geothermal terbesar, disusul Filipina dan Indonesia.
"AS banyak pakai untuk support listrik, sebentar lagi kita susul Filipina jadi peringkat 2 pengguna geothermal terbesar," tegas Rida.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar